Computer & IT
Jim Geovedi: Di Indonesia, Hacker Tidak Ditanggapi Berimbang
Kamis, 12 Juni 2008 - 19:43 wib
Muhammad Chandrataruna - Okezone
JAKARTA - Jim Geovedi, yang dikenal sebagai konsultan sekuriti sekaligus
anggota dari HERT, mempresentasikan beberapa profesi pekerjaan yang bisa
dikategorikannya sebagai seorang yang mengerti teknik hacking atau hacker.
Jim menuturkan, ada beberapa profesi yang bisa dikelompokkan sebagai hacker.
Profesi hacker tersebut kemudian dibaginya ke dalam dua kategori.
"Pertama corporate hacker, meliputi programmer, administrator, operator,
security officer, IT auditor, konsultan TI, dan hacker. Kedua adalah
independent hacker, termasuk operating system/software hacker, intrusion
specialist, vulnerability researcher, botnet owner, rootkit/trojan/virus
writer, dan spammer," kata dia di sela-sela presentasinya dalam seminar
Hacker's Day di Jakarta, Kamis (12/6/2008).
Menurut Jim, kebanyakan hacker berprofesi sebagai programmer pada siang hari.
"Mereka yang lebih mengerti bahasa pemrograman, sudah pasti mereka bisa
hacking," katanya sambil mengurai contoh programmer yang bekerja di Microsoft,
Sun Microsystems, dan sejenisnya.
Lanjutnya, dia memaparkan administrator karena profesi ini, menurut Jim,
paling mengerti tentang special equipment untuk infrastruktur seperti Firewall
sebuah jaringan suatu perusahaan.
Selain itu, terdapat security officer yang bekerja sebagai penulis kebijakan
policy dan prosedur untuk perusahaan dan mempunyai otoritas untuk menentukan
akses dan keamanan dalam perusahaan. "Tentu mereka harus mengerti tentang
keamanan dan pengamanan dari ancaman hacking," Jim menuturkan.
Adapun hacker dijadikan profesi oleh sebuah perusahaan, namun menurut Jim hal
itu jarang terjadi. "Kerja mereka biasanya ngecek keamanan sistem jaringan
atau source code. Ada juga yang diadain buat gaya-gayaan doang," ucap Jim.
Independent hacker dibedakan karena tidak berada di bawah badan atau afiliasi
tertentu dan bekerja sebagai hacker untuk kepentingan diri sendiri. Salah
satunya adalah operating system atau software hacker.
"Kerja mereka mendevelop software dan sistem operasi. Mereka bisa bekerja di
mana saja, dan bayaran mereka 2-3 kali lipat pendapatan pekerja TI korporasi,"
papar dia.
Di samping itu, intrusion specialist, vulnerability researcher, botnet owner,
toolkit/trojan/virus writer dan spammer juga dikategorikan Jim sebagai
independent hacker.
"Intrusion specialist menjadi salah satu yang paling digemari. Kerjanya
ngebobol sistem atau jaringan orang. Biasanya mereka dicari-cari perusahaan
untuk membobol jaringan kompetitornya," ujar Jim.
"Kalau vulnerability researcher, kerjanya mencari kelemahan-kelemahan dari
sebuah sistem atau jaringan dan mencari keuntungan dari situ. Berbeda dengan
botnet owner, yang menguasai kontrol atas puluhan ribu host. Biasanya
host-host ini disewakan untuk DDoS," lanjut dia.
Sementara itu, Jim juga sempat mengatakan bahwa di Indonesia, hacker masih
dikenal dengan sosok dengan image jahat padahal hacker sendiri mengawali
aktivitas hackingnya atas dasar coba-coba.
"Aparat hukum malah menanggapi hal ini sebagai masalah serius. Ini tidak
berimbang, tapi ini yang terjadi di Indonesia," pungkas Jim. (srn)
sumber dari sini
August 24, 2008
Di Indonesia, Hacker Tidak Ditanggapi Berimbang
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment